Senin, 22 Juni 2009

Rolling Hard Rock

“Rolling Hard Rock”













































































































Hari Minggu, 21 Juni 2009 sejak pukul 08.00 WIB anggota Suzuki Thunder Community Jogjakarta (STC-J) telah berkumpul di Halaman Stadion Kridosono Yogyakarta. Pagi itu STC-J berencana mengadakan Rolling Hard Rock dalam rangka memperingati hari ulang tahun yang ke 4. Peringatan kali ini dilaksanakan secara sederhana berhubung bersamaan waktunya dengan masa kampanye pemilihan presiden wakil presiden RI. Diawali dengan briefing tentang rolling thunder kali ini yang bertujuan untuk turut mensosialisasikan safety riding, tertib berlalulintas dan yang terpenting adalah melaksanakan program tertib konvoi, yang menjadikan konvoi bukan hal yang menakutkan namun menjadi sebuah tontonan yang menarik, dengan berlaku sopan di jalan dan menghargai pengguna jalan yang lain. Setelah berdoa dan tos salam STC-J The Best, tepat pukul 09.00 WIB rombongan STC-J yang berjumlah 25 motor berangkat menuju Wonosari. Sebagai Road Captain Bro Andi dibantu Sweeper Bro Doni, Indra, John, & Rizky membawa rombongan menaiki tanjakan piyungan yang berkelok, sesekali tertahan oleh kendaraan berat yang pelan tapi pasti berjalan merayap. Rombongan berkendara diatas aspal keras, membelah hutan jati, di kaki bukit kapur, dipayungi awan dan cuaca yang cerah semakin menggugah semangat, keceriaan, & rasa kebersamaan antar anggota STC-J. Climax dari jalan menanjak adalah pemberhentian pertama yaitu Polsek Saptosari dimana beberapa waktu sebelumnya STC-J pernah dijemput di tempat ini oleh Kompol Noffan Widyayoko, SIK saat beliau masih menjabat sebagai Wakapolres Gunungkidul untuk bersama dengan beberapa angota Polres Gunungkidul melakukan konvoi dalam rangka sosialisasi safety riding & light on. Selepas mencapai climax, rombongan menyusuri jalan menurun, berliku-liku, dan melalui beberapa gajlukan, akhirnya jalan aspal keras tersambung dengan jalan baru yang lebar dengan aspal hotmix, membuat rombongan serasa dibuai bersama Thundie kesayangan. Setelah beberapa kilometer akhirnya hotmix terputus, hingga rombongan melalui jalan tanah yang masih dalam proses pelebaran jalan. Cukup membuat rombongan harus extra hati-hati karena jalanan berupa butiran-butiran tanah keras yang sewaktu-waktu dapat membuat selip roda kendaraan. Di kanan kiri jalan terlihat tebing-tebing sebagai akibat “belah gunung” dengan pelaku utama “Bego” excavator yang masih terparkir di sisi jalan. Kembali rombongan menapaki jalan aspal setengah jadi yang masih terbalut pasir yang licin, membuat rombongan harus berjalan cukup pelan untuk menghindari debu dan resiko terpeleset karena licinnya medan. Rombongan sempat berhenti sejenak di tempat teduh sambil menunggu salah satu anggota yang harus kembali ke pemberhentian pertama karena “kaca mata ala Syeh Puji’ nya tertinggal. Rombongan melanjutkan perjalanan dan mulai terlihat bibir pantai di kejauhan. Hingga mencapai gardu pandang diatas pantai Parangtritis, rombongan berjajar bersama sang Thundie untuk berpose dengan latar belakang bibir pantai dan bukit kapur. …bersambung..(dah ngantuk)..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar